Operator Telekomunikasi Pasrah Tarif Interkoneksi Dipangkas

JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sedang menggodok penurunan tarif interkoneksi pada tahun ini. Ditargetkan pada awal tahun depan sudah ada angka tarif interkoneksiyang baru.

Atas rencana itu, sejumlah operator mengaku siap mengikuti keputusan pemerintah. Daniswara Pandina, General Manager Regulatory Development & Compliance Telkomsel bilang, pihaknya sepenuhnya menyerahkan tarif interkoneksi kepada pemerintah. Sebab kenaikan maupun penurunan tarif interkoneksi sepenuhnya berdasarkan hasil perhitungan biaya yang dihitung pemerintah.

“Secara prinsip perhitungan yang dihasilkan harus mencerminkan seluruh biaya yang telah dikeluarkan oleh masing masing operator baik capex (capital expenditure) maupun opex (operational expenditure),” katanya kepada KONTAN, Senin (25/5/2015).

Dia bilang kenaikan dan penurunan tarif interkoneksi akan berpengaruh kepada besaran biaya yang harus dibayarkan Telkomsel kepada operator lain. Namun, perubahannya tak terlalu signifikan karena panggilan pelanggan Telkomsel ke operator lain, jumlahnya dibawah 5% dari total panggilan pelanggan Telkomsel.
Telkomsel cukup menyesuaikan saja besaran biaya interkoneksi sesuai tarif masing masing operator,” ungkapnya.

Dari data itu, artinya trafik on-net masih mendominasi ketimbang trafik off-net. Sayang, tidak dijelaskan detail berapa tarif interkoneksi off-net dan On-net Telkomsel. Dia hanya berujar, besar tarif retail off-net dan on-net cukup bervariasi.

Sebelumnya Menkominfo Rudiantara menjelaskan, tujuan penghitungan ulang selain untuk evaluasi juga untuk menurunkan tarif interkoneksi. “Saat ini masih dalam analisis penghitungan, harapannya awal tahun depan depan bisa keluar angka (tarif) interkoneksinya,” katanya.

Tujuan utama penurunan tarif interkoneksi adalah mendorong peningkatan trafik dari satu jaringan ke jaringan yang lain. Tujuan tersebut tidak akan tercapai jika tarif interkoneksi masih terlalu tinggi.

Dia bilang, tarif interkoneksi nantinya bakal menjadi patokan bagi operator seluler untuk menetapkan harga retail alias tarif yang dibebankan kepada konsumen. Tarif ini terbagi menjadi dua macam, yakni tarif on net dan tarif off net. Tarif on net adalah tarif yang dibebankan pada penggunaan jaringan yang sama, semisal sesama pelanggan Telkomsel saling menelepon. Tarif off net sendiri dibebankan pada penggunaan lintas jaringan, misalnya, pelanggan XL menelepon ke pelanggan Indosat.

Rudi bilang, kondisi sekarang, harganya sudah sangat tidak efisien. Hal ini lantaran tarif off net lebih mahal berkali-kali lipat ketimbang tarif on net. “Sekarang ini tidak efisien karena biaya off net itu pengalinya lebih banyak, bisa enam sampai delapan kali. Off net mahal sekali, makannya saya ingin bisa turun tarifnya,” ujarnya. (Merlinda Riska)

sumber: tribunnews.com

Solusi Hemat Telekomunikasi dari Provider Telekomunikasi Indonesia, bisa anda dapatkan melalui kami.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s